Motor buatan
tahun 1975, tapi penampilannya bak seperti baru keluar dari showroom. Ngga percaya? Itulah yang membuat Honda
S90Z milik Yudi Afrandi Arief seharga mobil baru. Bagi sebagian orang, motor
tua mungkin dianggap besi tua alias rongsokan. Jangankan untuk merawat dan
menyimpannya sebagai koleksi, sekadar melirik pun tau mau.
Di tangan
penggila motor klasik, besi rongsokan itu bisa disulap seperti baru. Lihat
saja, sekitar 20-an motor tua milik Yudi ini. Penampilannya tak kalah
dibandingkan motor baru. Itu baru penampilannya, kalau dihitung dengan rupiah,
satu motor tua Yudi bisa seharga 5 atau 10 motor baru! Bahkan, tipe S190Z buatan
1975 itu kalau dirupiahkan setara dengan harga mobil tahun 1990-an. ”Banyak
yang ingin beli, tapi maaf, tidak dijual,” kata Yudi.
Hobi membangun
motor tua diawali Yudi sejak masih dibangku kuliah. Itu pun lebih pada
nostalgia mengingat mendiang orang tuanya pernah menggunakan Honda S190Z
sebagai kendaraan operasional dan Yudi kecil pun sering berkendara menggunakan
Honda S190Z. Tahun 1999, akhirnya Yudi menemukan Honda S190Z warna orange,
motor ini sama persis dengan motor yang digunakan kedua orang tuanya dulu. Dari
nostalgia inilah koleksi motor klasik Yudi kini sekitar 20-an unit!
Selain nostalgia
masa kecil, Honda S190Z juga dipandangnya sebagai motor klasik yang memiliki
seni tinggi. Ia tertarik karena sebagian besar body-nya terbuat dari besi,
bentuk desainnya yang beda (eksotis) dari motor tahun muda. Selain itu, faktor
lingkungan di tempat kuliahnya dulu di Purwokerto juga sangat mendukung, banyak
rekan-rekannya yang hilir mudik menggunakan motor tua segala merk.
Motor klasik pertama
yang dimilikinya adalah Honda tipe S90Z tahun 1970 warna orange. Bagi Yudi,
motor ini memiliki kenangan yang tidak bakal dia lupakan seumur hidupnya.
Pasalnya, mendian orang tuanya dulu pernah menggunakan sepeda motor sejenis
sebagai kendaraan operasional. Dan yang special dari motor ini adalah warnanya
yang orange, karena warna ini jarang (paling banyak yang beredar adalah merah
dan biru) dan motor ini merupakan generasi pertama dari Seri S90Z yang masih
impor dari Jepang (CBU). ASTRA baru memproduksinya pertama kali pada tahun 1971
yang terkenal dengan Honda Astra.
Menurut Yudi,
Honda S90Z dibekali mesin single piston yang tangguh. Mesin tipe ini sudah mulai
digunakan sejak tipe S90 tahun 1965 hingga 1975. Jadi selama 10 tahun mesin ini
cukup dipercaya sebagai motor penggerak untuk tipe S, CD, CL dan CT 90.
Motor S90Z orange ini didapatnya di Jakarta dari pemilik pertama seorang
pensiunan pegawai pemerintahan. Ketika pertama kali ditemukan, kondisinnya
sudah bertahun-tahun tidak digunakan alias digudangkan. Informasinya didapat
dari milist komunitas motor klasik, classic-motorcycle.org. Dari informasi inilah
sang pemilik berniat menjual S90Z orange karena ingin pindah tempat tinggal. “Tanpa
pikir panjang lagi saya langsung tertarik. Ya karena sejarah masa kecil saya
dan juga warna orange-nya,” ungkap Yudi yang mengaku tanpa melihat kondisi
fisik motornya.
Yudi yang berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu
perusahaan ternama di jakarta ini termasuk beruntung bisa mendapatkan motor
itu. Sebab, dari anggota komunitas motor klasik, ternyata banyak juga yang
mengincarnya. Buktinya, setelah transaksi pembelian dilakukan, banyak penggila
motor klasik meneleponnya. “Banyak yang bertanya apakah motor itu dijual lagi,
tapi saya jawab kalau motornya tidak dijual,” kata Yudi.
Hati Yudi semakin berbunga ketika melihat fisik motor
impiannya. Bisa dikatakan kondisinya 90%, misalnya untuk kelengkapan body part asli
bawaan motor itu dan mulailah mebangun motor tersebut kembali seperti masa
kejayaanya dulu.
Menurut Yudi, untuk memulai membangun motor itu tidak begitu
sulit, karena kondisi saat barang tersebut diterima masih terhitung lengkap dan
masih dalam kondisi bagus dan terawat walau lama tidak digunakan. Dimulai
dengan mengganti beberapa body part yang sudah usang atau tidak sesuai kondisi
aslinya guna mempermanis tampilan sesuai keadaan aslinya dengan tetap
mempertahankan warna aslinya, orange.
Diikuti dengan menghidupkan mesin dan surat-surat kendaraan.
Pada saat itu spare part asli masih mudah didapat dengan harga yang terjangkau.
Seiring bertambahnya waktu dan semakin orang yang ingin memiliki motor classic,
maka spare part tersebut semakin sulit ditemukan di toko-toko lama yang menjual
onderdil kendaraan bermotor khususnya roda 2.
Hingga kini, koleksi motor klasik Yudi sudak mencapai
sekitar 20-an unit. Satu yang menurutnya menjadi koleksi paling disayangi
adalah Honda CB125SS buatan tahun 1960. Motor ini ia anggap spesial dilihat
dari basis mesinnya yang twin port kemudian Label SS (Super Sport). Yang
membuat motor ini lebih berharga adalah motor ini merupakan produksi khusus dan
dokumen surat motor ini masih lengkap sehingga bisa mengetahui sejarahnya masuk
ke Indonesia dari Jepang. “Dari sini jelas. Motor ini sangat jarang, bahkan
langka untuk merk Honda berdasarkan dokumen impor (CBU) langsung tanpa
distributor,” ungkap Yudi.
CB125SS didapat Yudi pada saat Jambore Nasional Motor Klasik
di Yogyakarta yang berbarengan dengan acara
parade 100 tahun kebangkitan nasional. Peristiwa ini diwarnai dengan tragedi
kecelakaan yang dialami aktor nasional Sophan Sopihian. Motor ini dibelinya dengan harga yang masih
terbilang relative murah pada saat itu jika dilihat dari bentuk serta konfigurasi
mesin yang cenderung untuk keperluan balapan. Padahal, jika melihat spesifikasi
dan sejarah motor itu, harganya bisa selangit! Kondisi fisik motor ini saat dilihatnya pertama kali masih lumayan lengkap.
Hanya saja, besinya sudah rapuh digerogoti karat. ”Mesinnya mati. Jadi kalau
orang bilang, beli rongsokan dan kertas akte silsilahnya,” ujar Yudi.
Untuk menghidupkan
motor ini, Yudi mebutuhkan waktu sekitar
1 setengah tahun. Lumayan lama karena sparepart asli motor ini sulit dicari.
Apalagi motor ini tidak masuk ke Indonesia. Solusinya, belanja melalui internet
(ebay) dan bersabar mencari jeroan mesin yang sama digunakan oleh motor lain
(kanibal) hingga motor itu bisa hidup kembali.
Meski koleksinya
sudah puluhan, Yudi mengaku masih memiliki motor impian untuk dimiliki, yakni
Honda CP77 Dream. ”Sesuai dengan namanya motor ini hanya menjadi impian bagi
saya, karena sejarahnya motor ini hanya masuk ke Indonesia sebagai kendaraan
PATWAL instansi militer di Indonesia,” ungkap Yudi.