Friday, August 31, 2012

Spa-Francorchamps Qualifying Press Conference


GP2 Series: Ladies and gentlemen, welcome to the press conference for today's press conference here in Spa Francorchamps: joining us today are polesitter Rio Haryanto from Carlin, in second place we have James Calado from Lotus, and in third is his teammate Esteban GutieƩrrez. Rio, congratulations on your first pole position: you must be delighted?

Rio Haryanto: Yeah, I'm very pleased with the result! It's been a long time coming, and I think everything was working very well, I was in the right place at the right time, I had to push for a good lap, but I am very pleased with the result, and I am looking forward to tomorrow's race!

Tercepat, Rio Rebut Pole Position!

Hujan deras di Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia, tak menghalangi pembalap muda Indonesia, Rio Haryanto, untuk tampil tercepat di sesi kualifikasi GP2, Jumat, 31 Agustus 2012. Rio yang tergabung tim Pertamina GP2- Carlin berhasil mengalahkan dua jagoan Lotus, James Calado (P2) dan Esteben Gutierrez (P3) sepanjang 30 menit sesi kualifikasi.

Pembalap kelahiran Solo, 19 tahun lalu, ini mencatat waktu tercepat 2.17.535 sekaligus menjadi yang tercepat dari 26 pembalap dalam sesi kualifikasi sebanyak 13 lap. "Rio as the Rain Master is back!!" begitu komentator SkySports menyebut keberhasilan Rio menaklukkan lintasan basah sirkuit Spa-Francorchamps.

Posisi ke-2 ditempati James Calado (Inggris), tim lotus 2.17.643 dan posisi ke-3 direbut Ezteban Guttieres (Meksiko) tim Lotua 2.17.736

Dalam balapan kali ini, Rio yang baru pertamakali turun di GP2 sekali lagi membuktikan talentanya. Rio berhasil mengungguli pembalap-pembalap senior dari Eropa yang sudah 3 sampai 4 tahun berlaga di GP2. Kondisi track yang sangat basah dan licin, serta derasnya air hujan membuat jarak pandang para pembalap menjadi sangat minim. Hal itu menuntut skill para pembalap untuk mengontrol mobilnya, dan punya nyali yang besar.

"Saya akan berusaha maksimal untuk race besok di track yg sangat menantang ini. Rasanya seperti naik jet coaster waktu di jalan turunan dengan kecepatan 250km/jam," kata Rio yang akan memulai balapan Feature Race dari posisi 1 besok.

“Saya mohon doa dari seluruh keluarga, sponsor, dan teman2 di Indonesia."

We all pray for you. Good luck Rio

CARLIN ON POLE AGAIN AS HARYANTO GOES QUICKEST

Rio Haryanto has taken the Marussia Carlin GP2 Team’s second consecutive pole position in a GP2 qualifying session, at a rain soaked Spa-Francorchamps circuit today. The GP2 rookie was the driver to beat throughout this afternoon’s 30 minute qualifying session, and was quickest from the outset. Team mate Max Chilton, who took pole last time out in Hungary qualified in 13th ahead of tomorrow’s Feature race.
Following torrential rain throughout Friday’s track sessions, conditions had deteriorated even further by the time the drivers took to the track for GP2 qualifying this afternoon. After a short delay of 10 minutes, it was Haryanto who led the drivers onto the track, and the young Indonesian wasted no time in setting an early benchmark to go quickest of all in the first few minutes.
Few drivers managed to get close to the Carlin driver’s time, and with 10 minutes of the session gone, Haryanto was over six tenths of a second quicker than his nearest rival.
Haryanto lost the top spot only briefly, after the drivers emerged from the pits with new wet Pirelli tyres. A handful of drivers including James Calado and Marcus Ericsson briefly went quicker, but Haryanto was able to respond immediately to take back provisional pole.
As the session entered the final minutes, several drivers improved, including Chilton who jumped up to 13th. Haryanto continued to hold the top spot however, and despite the rain falling in the final seconds the Indonesian set his quickest sector two time and the quickest sector three overall on his final flying lap.
At the chequered flag, the 19 year-old remained unbeaten to take his maiden GP2 pole position, and Carlin’s second in as many race weekends. Haryanto also takes four valuable points to add to his 2012 tally.
A delighted Haryanto said, “I’m really pleased with the results today. We were quick from the beginning and I’m very pleased for the team; the car was very nice to drive and I could really feel the grip. I was trying to drive as smoothly as possible and not make any corrections or mistakes. I think we were in the right place at the right time with the second set of tyres. I felt the grip fall away on the first set and I think we stopped at the perfect time to set the quickest lap on the new tyres before the rain started to come again. For sure it’s not going to be easy tomorrow, but I will do my best and we will work hard to have a good strategy. We will see what tomorrow brings. Hopefully it will be wet again!”
The GP2 Feature Race will take place at 15.40 local time tomorrow.

www.carlin.co.uk

Tuesday, July 24, 2012

Sprint Race GP2 Hockenheim: Terhalang Tabrakan, Rio Finish ke-11


Rio Haryanto, pebalap andalan Pertamina GP2 Team yang membela tim Marussia Carlin gagal menambah angka setelah hanya finish di posisi ke-11 pada Sprint race, Minggu, 22 Juli 2012 di sirkuit Hockenheimring, Jerman. Capaian ini lebih baik dibanding hasil Feature race yang finish di posisi ke-17. 

Sirkuit Hockenheimring merupakan tipikal sitkuit berkarakter cepat, dengan panjang lintasan 4,574 km.  Rio mengawali Sprint race dengan start lancar, namun sempat nyaris terlibat dalam insiden, yang telah mengakibatkan rekan setimnya, Max Chilton keluar lomba saat bertabrakan dengan Tom Dillman. Posisinya melorot ke-18 di lap pertama. Upaya untuk memperbaiki posisi langsung ia mulai setelah safety car keluar, dan pada lap ke 4, Rio sukses menyalip Canamasas untuk naik ke posisi 16.

Sunday, July 22, 2012

Unfortunate Day for Rio


Pembalap Indonesia yang berlaga di GP2, Rio Haryanto, mendapatkan hasil kurang memuaskan di feature race seri ke-8 di Hockenheimring, Jerman, Sabtu, 21 Juli 2012. Sart dari posisi 19, Rio harus puas finish di poisi ke-17.

Balapan di sirkuit sepanjang 4,574 km dengan total  38 putaran ini awalnya berlangsung dalam kondisi lintasan basah. Hujan yang mengguyur beberapa saat sebelumnya masih menyisakan genaran air hampir di seluruh permukaan lintasan.

Saturday, July 21, 2012

Kolektor Motor Klasik, Nostalgia ”Kebablasan”


Motor buatan tahun 1975, tapi penampilannya bak seperti baru keluar dari showroom. Ngga percaya? Itulah yang membuat Honda S90Z milik Yudi Afrandi Arief seharga mobil baru. Bagi sebagian orang, motor tua mungkin dianggap besi tua alias rongsokan. Jangankan untuk merawat dan menyimpannya sebagai koleksi, sekadar melirik pun tau mau.

Di tangan penggila motor klasik, besi rongsokan itu bisa disulap seperti baru. Lihat saja, sekitar 20-an motor tua milik Yudi ini. Penampilannya tak kalah dibandingkan motor baru. Itu baru penampilannya, kalau dihitung dengan rupiah, satu motor tua Yudi bisa seharga 5 atau 10 motor baru! Bahkan, tipe S190Z buatan 1975 itu kalau dirupiahkan setara dengan harga mobil tahun 1990-an. ”Banyak yang ingin beli, tapi maaf, tidak dijual,” kata Yudi.

Hobi membangun motor tua diawali Yudi sejak masih dibangku kuliah. Itu pun lebih pada nostalgia mengingat mendiang orang tuanya pernah menggunakan Honda S190Z sebagai kendaraan operasional dan Yudi kecil pun sering berkendara menggunakan Honda S190Z. Tahun 1999, akhirnya Yudi menemukan Honda S190Z warna orange, motor ini sama persis dengan motor yang digunakan kedua orang tuanya dulu. Dari nostalgia inilah koleksi motor klasik Yudi kini sekitar 20-an unit!

Selain nostalgia masa kecil, Honda S190Z juga dipandangnya sebagai motor klasik yang memiliki seni tinggi. Ia tertarik karena sebagian besar body-nya terbuat dari besi, bentuk desainnya yang beda (eksotis) dari motor tahun muda. Selain itu, faktor lingkungan di tempat kuliahnya dulu di Purwokerto juga sangat mendukung, banyak rekan-rekannya yang hilir mudik menggunakan motor tua segala merk.

Motor klasik pertama yang dimilikinya adalah Honda tipe S90Z tahun 1970 warna orange. Bagi Yudi, motor ini memiliki kenangan yang tidak bakal dia lupakan seumur hidupnya. Pasalnya, mendian orang tuanya dulu pernah menggunakan sepeda motor sejenis sebagai kendaraan operasional. Dan yang special dari motor ini adalah warnanya yang orange, karena warna ini jarang (paling banyak yang beredar adalah merah dan biru) dan motor ini merupakan generasi pertama dari Seri S90Z yang masih impor dari Jepang (CBU). ASTRA baru memproduksinya pertama kali pada tahun 1971 yang terkenal dengan Honda Astra.

Menurut Yudi, Honda S90Z dibekali mesin single piston yang tangguh. Mesin tipe ini sudah mulai digunakan sejak tipe S90 tahun 1965 hingga 1975. Jadi selama 10 tahun mesin ini cukup dipercaya sebagai motor penggerak untuk tipe S, CD, CL dan CT 90.

Motor S90Z orange ini didapatnya di Jakarta dari pemilik pertama seorang pensiunan pegawai pemerintahan. Ketika pertama kali ditemukan, kondisinnya sudah bertahun-tahun tidak digunakan alias digudangkan. Informasinya didapat dari milist komunitas motor klasik, classic-motorcycle.org. Dari informasi inilah sang pemilik berniat menjual S90Z orange karena ingin pindah tempat tinggal. “Tanpa pikir panjang lagi saya langsung tertarik. Ya karena sejarah masa kecil saya dan juga warna orange-nya,” ungkap Yudi yang mengaku tanpa melihat kondisi fisik motornya.

Yudi yang berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan ternama di jakarta ini termasuk beruntung bisa mendapatkan motor itu. Sebab, dari anggota komunitas motor klasik, ternyata banyak juga yang mengincarnya. Buktinya, setelah transaksi pembelian dilakukan, banyak penggila motor klasik meneleponnya. “Banyak yang bertanya apakah motor itu dijual lagi, tapi saya jawab kalau motornya tidak dijual,” kata Yudi.

Hati Yudi semakin berbunga ketika melihat fisik motor impiannya. Bisa dikatakan kondisinya 90%, misalnya untuk kelengkapan body part asli bawaan motor itu dan mulailah mebangun motor tersebut kembali seperti masa kejayaanya dulu.

Menurut Yudi, untuk memulai membangun motor itu tidak begitu sulit, karena kondisi saat barang tersebut diterima masih terhitung lengkap dan masih dalam kondisi bagus dan terawat walau lama tidak digunakan. Dimulai dengan mengganti beberapa body part yang sudah usang atau tidak sesuai kondisi aslinya guna mempermanis tampilan sesuai keadaan aslinya dengan tetap mempertahankan warna aslinya, orange.

Diikuti dengan menghidupkan mesin dan surat-surat kendaraan. Pada saat itu spare part asli masih mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Seiring bertambahnya waktu dan semakin orang yang ingin memiliki motor classic, maka spare part tersebut semakin sulit ditemukan di toko-toko lama yang menjual onderdil kendaraan bermotor khususnya roda 2.

Hingga kini, koleksi motor klasik Yudi sudak mencapai sekitar 20-an unit. Satu yang menurutnya menjadi koleksi paling disayangi adalah Honda CB125SS buatan tahun 1960. Motor ini ia anggap spesial dilihat dari basis mesinnya yang twin port kemudian Label SS (Super Sport). Yang membuat motor ini lebih berharga adalah motor ini merupakan produksi khusus dan dokumen surat motor ini masih lengkap sehingga bisa mengetahui sejarahnya masuk ke Indonesia dari Jepang. “Dari sini jelas. Motor ini sangat jarang, bahkan langka untuk merk Honda berdasarkan dokumen impor (CBU) langsung tanpa distributor,” ungkap Yudi.

CB125SS didapat Yudi pada saat Jambore Nasional Motor Klasik di Yogyakarta yang berbarengan dengan acara parade 100 tahun kebangkitan nasional. Peristiwa ini diwarnai dengan tragedi kecelakaan yang dialami aktor nasional Sophan Sopihian.  Motor ini dibelinya dengan harga yang masih terbilang relative murah pada saat itu jika dilihat dari bentuk serta konfigurasi mesin yang cenderung untuk keperluan balapan. Padahal, jika melihat spesifikasi dan sejarah motor itu, harganya bisa selangit! Kondisi fisik motor ini saat dilihatnya pertama kali masih lumayan lengkap. Hanya saja, besinya sudah rapuh digerogoti karat. ”Mesinnya mati. Jadi kalau orang bilang, beli rongsokan dan kertas akte silsilahnya,” ujar Yudi.

Untuk menghidupkan motor ini, Yudi  mebutuhkan waktu sekitar 1 setengah tahun. Lumayan lama karena sparepart asli motor ini sulit dicari. Apalagi motor ini tidak masuk ke Indonesia. Solusinya, belanja melalui internet (ebay) dan bersabar mencari jeroan mesin yang sama digunakan oleh motor lain (kanibal) hingga motor itu bisa hidup kembali.

Meski koleksinya sudah puluhan, Yudi mengaku masih memiliki motor impian untuk dimiliki, yakni Honda CP77 Dream. ”Sesuai dengan namanya motor ini hanya menjadi impian bagi saya, karena sejarahnya motor ini hanya masuk ke Indonesia sebagai kendaraan PATWAL instansi militer di Indonesia,” ungkap Yudi.

Abrakadabra... Motor Rongsokan Jadi Baru!!!


Anda punya motor atau mobil tua yang sudah karatan atau bahkan nyaris tak berbentuk lagi? Jangan buru-buru “dikiloin” ke pemulung! Apalagi kalau motor itu punya nilai sejarah tinggi atau tipe klasik yang bernilai.

Jika ditangani (restorasi) dengan benar, kendaraan rongsokan itu bisa menjadi seperti baru seperti yang ditunjukkan spesialis restorasi mobil dan motor, mastomcustom ini. Di tangan mastomcustom yang aktif sejak 2005 ini, sepeda motor maupun mobil tua disulap menjadi baru, nyaris seperti baru keluar dari pabrik.